ferdiansyah
read my profile
sign my guestbook

Visit ferdiansyah's Xanga Site!

Name: Ferdiansyah
Country: Indonesia
Gender: Male


Interests: Movies (favorites: The Sound of Music, The Deep End of the Ocean, The Godfather trilogy, The Lord of the Rings trilogy, James Bond's movie, Pulp Fiction; actors : Robert deNiro, Al Pacino, Jeremy Irons, Clint Eastwood; actress: Nicole Kidman, Nicole Kidman and Nicole Kidman). Books (author: Tom Clancy, Dan Brown, Agatha Christie, John Grisham); Musics (Chicago, Queen, Mile Davis)
Industry: Business


Message: message meEmail: email me
Website: visit my website
Yahoo: ferdyskywalker


Member Since: 3/15/2004

SubscriptionsSites I Read

Blogrings
! MoViE-aHoLiC !
previous - random - next

! ! ! ! ! ! ! ! MOVIE MANIAC ! ! ! ! ! ! ! ! !
previous - random - next


Posting Calendar

|<< oldest | newest >>|
view all weblog archives

Get Involved!

Suggest a link

Recommend to friend

Create a site


Monday, October 16, 2006

Russel Crowe, SBY dan Hadiah Nobel

     
Sukurlah  Presiden SBY tidak mendapat hadiah Nobel. Di media massa diberitakan SBY dicalonkan untuk mendapatkan hadiah dari yayasan sang penemu dinamit tersebut, dan diberitakan juga bahwa walaupun tidak (jadi) mendapat Hadiah Nobel, Presiden SBY tetap bersukur. Saya bersukur dan SBY juga bersukur, sukurlah.

Russel Crowe pernah dengan apik memerankan ahli matematika yang juga penderita schizophrenia dalam film A Beautiful Mind. Tokoh yang diperankan Crowe bernama John Nash. John Nash pernah mendapat Hadiah Nobel untuk Matematika, dan dalam film A Beautiful Mind tersebut, nyata bagi kita mengapa John Nash layak mendapatkan Hadiah Nobel.

So, kenapa saya bersukur SBY tidak jadi memenangkan Nobel? Tentu saja saya tidak sirik sama beliau. Kalau beliau menanyakan hal tersebut langsung ke saya (yang mana kemungkinannya adalah 1 dibandingkan seluruh jumlah penduduk Indonesia), saya akan menjawab dengan lantang :" Well hold on Mr President, masih banyak yang harus Anda buktikan. Kalau you bisa membongkar konspirasi yang menyelimuti pembunuhan aktivis HAM Munir, Anda layak mendapatkan Nobel.  Anda mau Hadiah Nobel dalam bidang apa, Bapak Presiden? Di bidang lingkungan hidup? Stop dulu kebiasaan Indonesia yang norak yang setiap tahun mengirimkan asap ke negara tetangga. Kerahkan segenap tenaga Anda untuk menghentikan luapan lumpur puanasss di kawah candra dimuka berjudul Lapindo Brantas. Bidang Sastra? Bisa saja, selain Anda jago menyanyikan Pelangi Di Matamu, Anda bisa juga menyaingi Habibie menulis buku untuk mengungkapkan pelanggaran HAM di Timor Timur, dan kasus-kasus orang hilang di sekitar tahun 1998. Nobel perdamaian? Kalau Anda bisa menyetop perang saudara di Poso, di Papua, boleh aja. Bidang Ekonomi? Kalau Anda bisa mengurangi "prestasi" Indonesia dalam jajaran negara terkorup di dunia, kenapa tidak? Bidang kesehatan? Wah, Indonesia sekarang menduduki peringkat tertinggi di dunia dalam kasus flu burung, kalau Anda bisa menghentikannya, boleh saja Hadiah Nobelnya untuk Anda.

Tapi selama semua itu masih belum terselesaikan, Anda cukup menyanyikan lagu "Bersama Kita Bisa" di kamar mandi istana. Tapi kalau semua pe-er tersebut bisa Anda laksanakan, hai Mr. SBY, penghargaan yang akan Anda dapatkan akan melebihi Nobel Prize. Anda akan melebihi John Nash, atau siapapun yang pernah mendapatkan Nobel. Dan bukan hanya Russel Crowe, kelak, jika kisah hidup Anda difilmkan, akan banyak aktor setara Tora Sudiro yang akan memerankan Anda. Karena kitapun sebenarnya sudah bosan melihat akting pemeran Suharto di film Pengkhianatan G30S/PKI yang dibesut Arifin C Noer.

Ferdy © Oktober 2006


Friday, October 06, 2006

CASINO ROYALE : SYNOPSIS

Film  Casino Royale yang akan  beredar  pertengahan bulan November 2006  adalah berdasarkan novel  berjudul sama  dari Ian Fleming yang diterbitkan tahun 1953; merupakan buku pertama dari serial James Bond.  Pernah difilmkan  parodinya di  tahun 1969 oleh Columbia Pictures  dengan bintang David Nivens, Woody Allen  dan  Barbara Bouchet dan diproduseri oleh Charles K Feldman.  Film Casino Royale  yang sekarang  diproduksi oleh Michael G Wilson dan Barbara Broccoli (EON Productions,  di bawah MGM Pictures, di bawah  Sony Pictures)  akan menandai hadirnya pemeran James Bond baru,  yakni Daniel Craig (Munich/L4yer Cake) dan disutradarai oleh Martin Campbell (The Mask of Zorro). Martin Campbell juga merupakan sutradara dari film James Bond terdahulu, GoldenEye.

Dalam Casino Royale, dikisahkan awal petualangan James Bond pada saat mulai bergabung dengan MI6 (Dinas Rahasia Inggris), di mana ia belum mendapatkan Licence To Kill. Tapi Bond sudah menunjukkan kehebatannya, dengan dua misi yang sukses secara profesional, peringkat Bond menanjak hingga mendapatkan status 00 (double O; dengan licence to kill). Misi pertama Bond membawanya ke Madagaskar, di mana ia harus memata-matai seorang teroris, Mollaka (Sebastian Foucan). Tidak semuanya berlangsung sesuai dengan rencana, Bond memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh, terpisah dari MI6, dalam rangka mengusut semua sel-sel teroris yang diincarnya. Mengikuti petunjuk yang menuntunnya ke Bahama, dia menemukan Dimitrios (Simon Abkarian) dan seorang gadis, Solange (Caterina Murino). James Bond menemukan bahwa Dimitrios memiliki hubungan dengan Le Chiffre (Mads Mikkelsen); seorang bankir dari organisasi teroris dunia.

Dinas Rahasia akhirnya memberitahukan bahwa  Le Chiffre merencanakan untuk  mengumpulkan dana  melalui permainan poker dengan taruhan sangat  tinggi,  di  Montenegro, di sebuah kasino yang bernama Le  Casino Royale.  MI6 menugaskan James Bond untuk mengikuti permainan poker melawan Le Chiffre,  dengan asumsi jika Le Chiffre kalah; maka keuangan organisasi teroris yang dipimpinnya akan hancur. M (Judi Dench)  menugaskan  Vesper Lynd (Eva Green) untuk mengawasi gerak-gerik James Bond. Skeptis dengan keberadaan Vesper Lynd,  pada akhirnya mereka berdua menghadapi bahaya bersama dan bahkan sempat disiksa oleh Le Chiffre.

Di Montenegro, James Bond bekerjasama dengan agen lokal yang bekerja untuk MI6, Mathis (Giancarlo Giannini); dan juga Felix Leiter (Jeffrey Wright), yang mewakili kepentingan CIA. Permainanpun berlangsung dengan tipuan-tipuan kotor dan kekerasan, sehingga mencapai klimaks yang mengesankan.

Apakah Daniel Craig mampu membawakan karakter James Bond dengan lebih baik, atau lebih buruk dibandingkan Sean Connery, George Lazenby, Roger Moore, Timothy Dalton dan Pierce Brosnan? Kita tunggu saja bulan depan.

Ferdy © Oktober 2006.



Wednesday, September 27, 2006

Trilogi The Godfather : Tidak ada The Godfather IV

       

Seorang rekan bernama Artanti Noviani, Vivi, pernah bertanya, apa sih bagusnya film The Godfather? Menurut dia film tersebut kesannya datar saja. Tentu saja pendapat orang mengenai film tertentu berbeda-beda. Seorang rekan yang lain pernah bilang film Phonebooth (sutradara Joel Schumacher, dibintangi oleh Collin Farrel) jelek karena lokasinya di tempat yang sama sepanjang film. Tentu saja pendapatnya subyektif, karena plot film tersebut sangat bagus dan memberikan pesan moral yang jelas kepada penontonnya. Kalau sebuah film membutuhkan tempat yang sama sepanjang durasi film karena memang dituntut begitu oleh skenarionya atau karena memang begitulah ceritanya, kenapa dibilang jelek? Kecuali kalau kita sebagai penonton ingin berwisata melalui film, tentu saja film Jacky Chan berjudul Around The World In 80 Days akan menjadi film yang sangat bagus.

Kembali ke film The Godfather. Saya pernah baca blog seorang teman, di situ dia menuliskan bahwa film favoritnya adalah The Godfather part I, sampai IV. Nah saya belum pernah tau ada film The Godfather 4 atau The Godfather part IV. Dinasti Corleone hanya bertahan sampai film The Godfather part III (1990) - (lihat Internet Movie Database); di mana Michael Corleone meninggal secara normal (bagusnya) dan dinasti Corleone dilanjutkan oleh keponakannya, Vincent Corleone (Andy Garcia). Tapi trilogi tersebut habis sampai di situ, meninggalkan kesan yang panjang dari sebuah film penuh pesan moral dan ironi dan pameran akting yang luar biasa oleh Marlon Brando, Al Pacino, Robert De Niro, James Caan, Robert Duval, Talia Shire, dan Sofia Coppola. Belakangan Sofia Coppola menjadi sutradara wanita yang diakui antara lain berkat film arahannya Lost In Translation dan tentu saja The Virgin Suicide.

Film The Godfather sendiri diadaptasi dari novel laris berjudul sama yang ditulis oleh Mario Puzzo. Menurut Mario Puzzo, kehidupan Don Vito Corleone diambil dari kehidupan nyata seorang boss mafia New York yang pernah hidup antara 1891 - 1973 bernama Frank Costello dan juga Vito Genovese (1897 - 1969). Sebagian besar adegan di film diambil dari insiden yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Plot-plot dalam film tersebut benar-benar pernah terjadi, termasuk plot di mana Don Vito Corleone mempengaruhi produser kawakan Hollywood agar memberikan peran tertentu kepada anak angkatnya, Johnnie Fontane, dengan cara menaruh kepala kuda yang berlumuran darah di tempat tidur sang produser. Konon Johnnie Fontane ini adalah karakter yang mewakili Frank Sinatra, seorang penyanyi dan bintang film yang disebut-sebut dekat dengan mafia.

Don Vito Corleone (Robert De Niro memerankan Vito Corleone muda, dan Marlon Brando memerankan Vito Corleone tua) berasal dari Sicilia, Italia. Melarikan diri dari pulau Sicilia sejak kecil karena dikejar-kejar mafia setempat, setelah ayah, abang dan ibunya dibunuh. Vito Corleone terdampar di New York dan tumbuh besar di sana. Kisah ini diceritakan secara kilas balik di film The Godfather part II (1974). Akting Robert De Niro sebagai Vito Corleone muda sangat memukau dan hampir sepanjang film dia berbahasa Italia dialek Sicilia. Setelah mapan, Vito Corleone sempat pulang ke Sicilia dan membalas dendam terhadap pembunuh ayah, abang dan ibunya. Yang menarik di film The Godfather part II adalah Al Pacino dan Robert De Niro bermain dalam satu film yang sama tetapi tidak pernah bertemu dalam satu layar. Tentu saja karena Robert De Niro berperan sebagai Vito Corleone yang masih muda dan anaknya Michael (Miguel) Corleone masih kecil. Michael Corleone dewasa diperankan oleh Al Pacino, dan karakter Vito Corleone tua lalu diperankan oleh Marlon Brando. Kelak lebih 20 tahun kemudian Al Pacino dan Robert De Niro main dalam satu film dan berbagi layar yang sama dalam Heat (1995) yang disutradarai oleh Michael Mann. 

Di film The Godfather part I (1972), dikisahkan keluarga Corleone didekati oleh Virgil Solozzo (Turkey Man) yang menyarankan agar Don Vito Corleone memulai bisnis obat bius. Tawaran ini serta merta ditolak oleh Don Vito Corleone, semata-mata karena sang Don punya rencana untuk melegitimasi bisnis keluarganya. Penolakan ini membuat Solozzo sakit hati dan mulai mendekati keluarga mafia New York yang lain. Mereka sepakat untuk menyingkirkan Don Vito Corleone. Pada saat membeli jeruk bersama anaknya Fredo, Vito Corleone ditembaki. Pada saat itu Michael Corleone baru lulus dari wajib militer dan bertekad untuk tidak mencampuri urusan keluarganya, agar mendapatkan simpati dari Kay Adams, seorang guru TK. Penembakan Don Vito Corleone dan usaha-usaha Solozzo yang bekerja sama dengan inspektur polisi bernama Captain Mark McKluskey untuk menghabisi keluarganya lah yang membuat Michael terlibat. Dengan menggunakan pistol yang ditaruh Clemenza di toilet sebuah restauran, Michael menghabisi Virgil Solozzo dan Mark McKluskey, membuang pistolnya dan melarikan diri ke Sicilia. Selama di pengasingan di Sicilia, Michael di bawah perlindungan Don Tomassino dan sempat menikah dengan gadis Sicilia keturunan Yunani bernama Apolonia Vitelli (Simonetta Stefanelli). Mendengar kakaknya Santino (Sonny) Corleone dibunuh, dan istrinya tewas terbunuh dalam bom mobil, Michael Corleone kembali ke New York dan mengambil alih pucuk pimpinan keluarga sebagai Don Michael Corleone, dan mulai menghabisi musuh-musuh keluarganya, termasuk suami adiknya Carlo, dan seorang entertainer pemilik hotel dan tempat hiburan Moe Greene (karakternya mirip dengan tokoh nyata Benyamin "Bugsy" Siegel yang mempelopori pembangunan Las Vegas). Michael menikah dengan Kay Adams dan menargetkan dalam lima tahun bisnis keluarganya akan menjadi legal dan nama keluarga Corleone menjadi bersih. Ironisnya, dalam usahanya untuk meninggalkan kejahatan inilah, lebih banyak lagi jiwa yang melayang dan darah yang tertumpah. Bahkan Michael harus menyuruh orang untuk membunuh kakaknya Fredo Corleone karena pengkhianatan (The Godfather Part II).

Ironisme ini berlanjut dalam The Godfather Part III, di mana Michael Corleone masih berusaha untuk membersihkan nama keluarganya, tapi malah mendapat tentangan dari Joey Zasa dan Don Altobello. Di film ini Michael menjalin hubungan dengan Archbishop Gilday, seorang uskup agung Vatikan untuk menjajaki kemungkinan mengambil alih Inmobiliare`, sebuah perusahaan konglomerasi yang dijalankan oleh Gereja Vatikan. Michael Corleone juga sempat mengaku dosa-dosanya kepada Cardinal Lamberto. Di saat yang sama ia mempersiapkan keponakannya Vincent Manzini, anak dari Sonny Corleone, untuk menggantikan dirinya. Vincent Manzini menjalin hubungan terlarang dengan anak Michael, Marry Corleone. Karena patuh pada Michael, Vincent menjauhi Marry Corleone. Di saat Michael Corleone mulai insaf, pada saat yang bersamaan dia harus membunuh Joey Zasa, Don Altobello, uskup Gilday, dan dalam proses tersebut anaknya Marry Corleone pun tewas. Michael Corleone berumur panjang dan meninggal secara wajar di Sicilia.

Ironisme, pertentangan abu-abu, kemunafikan dan semua hal yang menjadi unsur-unsur kehidupan manusia dipentaskan dalam trilogi The Godfather. Sebuah drama yang komplit dan menjadi ajaran baik secara moril maupun etika. Selain itu, akting bintang-bintangnya sangat mengesankan. Semuanya bermain bagus, tak luput dari penyutradaraan Francis Ford Coppola yang menawan. Tak pelak lagi, trilogi The Godfather menjadi standar dan acuan untuk film-film tentang gangster dan ironisme. Film The Godfather part I diklaim oleh American Film Institute sebagai urutan 3 dalam Top 100 Greatest Movie, memperoleh Oscar untuk film terbaik di Academy Award 45th, diklaim sebagai The Greatest Film of All Time oleh majalah Entertainment Weekly. Sementara The Godfather part II memperoleh 6 Oscar, dan dianggap sebagai sekuel terbaik sepanjang jaman.

Ferdy  © September 2006.


Monday, June 19, 2006

ALL TIME MOVIE QUOTES

   

Ada kalimat-kalimat tertentu yang kita ingat dari sebuah film. Tom Cruise meneriakkan kata "Show me the money!" dalam film Jerry Maguire, penonton mengingat ucapan Arnold Schwarzenegger "I'll be back.." dalam film Terminator. Ucapan (line) inilah yang disebut quote. Quote sebenarnya adalah penggalan kalimat yang diucapkan oleh orang-orang tertentu, misalnya selebritis, politikus dan bahkan guru sekolah kita.

Quote-quote tertentu dalam film menjadi begitu terkenal dan tak mudah dilupakan orang. Ucapan Rhet Buttler (Clark Gable) kepada Scarlet O Hara (Vivien Leigh) yang berbunyi : "Frankly my dear, I don't give a damn." dalam film legendaris Gone With The Wind (1939) menjadi quote paling terkenal di dunia dalam sejarah perfilman. Penonton tentu masih ingat betapa menakutkan dan mengharukan ketika Haley Joel Osment mengatakan "I see dead people" kepada Bruce Willis dalam film The Sixth Sense.

American Film Institute adalah salah satu lembaga perfilman dunia yang membuat daftar ranking quote-quote terkenal yang diambil dari film-film terlaris. Untuk mengetahui film apa saja yang quote-quote nya masuk dalam daftar 100 Movie Quotes, silakan klik di sini (dalam format pdf).

© Ferdy June 2006.


Monday, May 01, 2006

TOM CLANCY, ALEC BALDWIN, HARISSON FORD, BEN AFFLECT DAN POTUS

       
Tom Clancy menulis buku The Hunt for Red October, yang dikomentari Ronald Reagan sebagai "..buku yang tidak dapat diletakkan..". The Hunt for Red October kemudian difilmkan dengan aktor Alec Baldwin dan Sean Connery. Plotnya berkisah tentang kapten kapalselam nuklir Rusia yang berusaha membelot dan melarikan kapalselam Red October ke Amerika. Tokoh Jack Ryan (John Patrick Ryan), mantan marinir yang kemudian menjadi analyst CIA, diperankan oleh Alec Baldwin.

Tom Clancy mempelopori genre baru dalam dunia literatur, yaitu genre technothriller. Plot dalam bukunya seringkali adalah kejadian yang terjadi di dunia nyata, dan dengan pengetahuannya tentang dunia militer dan intelijen, Clancy membangun insiden yang faktual tersebut menjadi sebuah kisah yang bagus, dengan jalinan plot yang liat, analisis dan riset yang akurat, hingga seolah-olah memang itulah yang terjadi di dunia nyata. Mirip Frederic Forsyth saat menulis The Day of the Jackal.

Jack Ryan yang mencoba pensiun dari CIA, kemudian terjebak dalam aksi terorisme yang dilakukan oleh grup sempalan/pecahan dari  IRA (Irish Republican Army) yang berusaha membunuh keluarga kerajaan Inggris. Ini plot dalam buku The Patriot Games, yang kemudian juga difilmkan dengan judul sama, dan kali ini tokoh Jack Ryan diperankan oleh Harisson Ford. Inilah kisah yang memuat kalimat ".. selama ini tidak ada aksi terorisme yang berani dilakukan di tanah Amerika.." yang dianggap menantang para teroris untuk melakukan aksi terorisme di Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 2001, seperti kita ketahui, 2 buah pesawat komersil ditabrakkan ke gedung World Trade Center, dan satu buah pesawat jatuh di Pentagon, sementara satu lagi berhasil digagalkan sebelum menimpa Gedung Putih. Keempat pesawat tersebut terlebih dahulu dibajak.

Namun sebelum itu, Tom Clancy menulis tentang bahaya lain yang menimpa Amerika Serikat. Plot nya menarik, karena justru ketika POTUS (President Of The United States)/Presiden Amerika mencanangkan perang melawan narkoba, Jack Ryan menemukan bahwa justru sebagian dana kampanye pemilihan Presiden Amerika berasal dari hasil pencucian uang (money laundering) dari penjualan narkoba oleh kartel obat bius di Kolombia. Ini diketahui ketika sahabat Presiden terbunuh, dan setelah diselidiki pembunuhan tersebut didalangi oleh Ernesto Escobedo, pimpinan kartel Medelin di Kolombia. Kita ketahui dalam dunia nyata ada Pablo Escobar, pimpinan kartel terkemuka di Kolombia yang berusaha diserang oleh CIA. Buku ini, Clear and Present Danger, kemudian difilmkan dengan Harisson Ford tetap sebagai Jack Ryan. Ada adegan menarik ketika Jack Ryan bertengkar dengan POTUS di ruang oval Gedung Putih. Kata-kata yang tak terlupakan adalah ketika Harisson Ford menuding balik presidennya dan mengucapkan "How dare you Mr President...".

Kisah Jack Ryan berlanjut dalam buku The Sum of All Fears, yang juga dibuat filmnya, kali ini Jack Ryan diperankan oleh Ben Afflect. Plotnya menceritakan sebuah bom nuklir yang hilang di Gurun Sinai sewaktu Perang Arab Israel tahun 70an. Bom itu kemudian ditemukan, dan pada akhirnya digunakan untuk meledakkan stadion Denver pada saat pertandingan Super Bowl. Ribuan orang meninggal dan CIA dan Gedung Putih mempersiapkan serangan balasan dengan rencana meluncurkan nuklir ke Rusia. Jack Ryan mati-matian meyakinkan semua pihak bahwa serangan tersebut bukan dilakukan oleh pihak Rusia, namun pihak lain yang ingin memicu Perang Dunia Ketiga.

Buku yang terakhir, Executive Order, sejauh yang saya ketahui tidak difilmkan. Bisa jadi karena plotnya tidak relevan lagi dengan situasi dunia saat ini. Kisahnya sendiri menceritakan Gedung Capitol yang hancur ditabrak pesawat sehingga menewaskan POTUS, sebagian besar mentri kabinet, dan seluruh anggota Kongres. Sehingga wakil presiden yang selamat, diangkat menjadi Presiden Amerika Serikat, Presiden Jack Ryan. Di lain pihak, situasi di Timur Tengah berubah arah. Presiden Irak Saddam Hussein tewas dibunuh pengawal pribadinya sendiri. Pembunuhan tersebut ternyata didalangi oleh pemimpin Iran, Ayatollah Mahmoud Haji Daryaei. Sebagaimana terjadi pada negara-negara yang dipimpin oleh diktator, kematian pemimpin selalu akan menjadikan negara tersebut seperti anak ayam kehilangan induk, karena sebelumnya tidak ada yang bisa menandingi kharisma Saddam Hussein. Iran kemudian menginvasi Irak dan mendirikan negara baru, gabungan dari Iran dan Irak, yaitu Republik Islam Bersatu, dengan agenda untuk menguasai seluruh ladang minyak di kawasan Timur Tengah. Pada saat yang sama, mereka juga menyerang Amerika Serikat dengan senjata biologis berupa virus Ebola. Arab Saudi, Bahrain dan Kuwait yang merasa terancam kemudian (tentu saja) meminta bantuan Amerika Serikat. Ini mengakibatkan Perang Teluk yang kedua.
Seperti kita ketahui, plotnya tidak relevan lagi sekarang. Amerika Serikat menginvasi Irak dengan alasan dibuat-buat, kemudian Saddam Hussein tertangkap (dan saat ini masih hidup dan mengikuti persidangan dengan tuduhan penjahat perang). Iran mendapat ancaman keras karena pengayaan materi nuklir dan ke depan kita mungkin (semoga tidak, amin) akan menyaksikan peristwa di mana pasukan Amerika Serikat menyerbu Iran. Selain isu minyak bumi dan materi nuklir, sebenarnya masih ada isu lain yang bisa menjadi penyebab perang di Timur Tengah. Irak dan Iran adalah negara Persia di mana mayoritas penduduknya adalah kaum Syiah. Jika Iran berhasil mencaplok Irak (sebagaimana yang dibahas dalam buku Executive Order ini), itu akan menjadikan negara terbesar ketiga sesudah Cina. Tentu saja negara-negara Kuwait, Bahrain, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab yang penduduknya adalah Muslim Sunni akan merasa terancam.

Sudah banyak film tentang perang dibuat, ada Platoon (Oliver Stone), ada The Deer Hunter (Michael Cimino), dan Saving Private Ryan (Steven Spielberg), semuanya menggambarkan kekejaman perang dengan maksud agar tidak ada lagi perang. Tapi jenis orang yang gila perang seperti George W Bush (warmonger) akan tetap ada. Dan perusahaan-perusahaan yang memproduksi senjata militer, mereka tentu ingin agar barang produksinya laku keras.

© Ferdy, May 2006.




Next 5 >>